Senin, 04 Juni 2012

PERSALAMAN DALAM BAHASA JEPANG


  
A. Pengantar
Apa yang pertama kali kita lakukan jika berhadapan dengan orang lain terlebih-
lebih jika orang lain itu sudah kita kenal?. Tentunya, kita akan mengucapkan kata-kata
salam sesuai dengan status sosial orang yang kita hadapi. Pada umumnya, orang
Indonesia berjabat tangan, sedangkan orang Jepang biasanya dengan membungkukkan
badan, atau istilah bahasa Jepang sambil ojigi. Ojigi sangat terakit dengan ucapan
persalaman. Seperti diilustrasikan oleh Amri (2003) bahwa ungkapan persalaman dapat
muncul ketika kita berinterakasi dengan orang lain (dalam hal ini orang Jepang) baik
pertama kali kita bertemu, ketika kita berpisah, ketika kita mempersilahkan orang lain,
mengucapkan selamat atas keberhasilan atau kebahagiaan orang lain, menyapa,
mengganggu, memohon maaf, ketika kita memasuki ruangan kantor, bahkan pada saat
sesudah makan bersama dengan orang Jepang. Ungkapan persalaman yang dimaksud
sebagai berikut.
Pada saat berinteraksi dengan orang Jepang pada pagi hari, siang hari dan malam hari,
yaitu:

Pada pagi hari
Pada siang hari

: Ohayoo gozaimasu (Selamat Pagi)
: Konnichiwa (Selamat Siang)

Pada malam hari

: Konbanwa

(Selamat Malam)

Ketika kita pertama kali bertemu dengan orang Jepang atau saat perkenalan dengan
orang Jepang umumnya digunakan tuturan Hajimemashite…to mooshimasu
(Perkenalkan nama saya..); Doozo yoroshiku onegai shimasu (Senang bertemu dengan
anda). Demikian pula ketika kita berpisah,yang paling umum adalah sayoonara. Apabila
kata ini diucapkan oleh yang pergi berarti selamat tinggal, sedangkan apabila diucapkan
oleh yang ditinggalkan berarti selamat jalan. Dengan kata lain sayoonara mempunyai
dua makna tergantung orang yang mengucapkannya.
Ucapan lain yang tidak kalah pentingnya adalah ketika kita mempersilahkan orang lain.
Ungkapan yang sangat praktis adalah Doozo(silahkan). Sedangkan ungkapan yang
digunakan ketika kita mengucapkan selamat atas keberhasilan atau kebahagiaan orang
lain digunakan ungkapan Omedetoo gozaimasu.
Selain itu, pada saat kita menyapa, menggangu, merepotkan, atau minta maaf kepada
orang lain sebagai berikut.

Memohon maaf

: Sumimasen/gomennasai/Mooshiwake arimasen

Setelah kita merepotkan orang lain : Doomo sumimasen

Apabila kita menggangu orang lain

: Sumimasen, Ojama shimasu

Lain lagi apabila kita memohon izin untuk memasuki suatu ruangan kantor misalnya,
digunakan Shitsurei shimasu (permisi).
Selain ungkapan di atas, tidak kalah pentingnya adalah kita ucapan terima kasih yang
sifatnya, yaitu Doomo arigatoo/Arigatoo gozaimasu (terima kasih banyak). Sedangkan
ucapan terima kasih yang sifatnya khusus seperti kita akan makan atau sesudah makan,
masing-masing digunakan Itadakimasu (Sunda: ditampi), dan sesudah makan
digunakan gochisoosama deshita (terima kasih atas jamuannya).
Pada artikel ini tidak akan dibahas lebih jauh masalah ojigi, maupun ungkapan
persalaman lainnya yang lebih rinci, namun lebih menitikberatkan pada persalaman
kaitannya dengan budaya Jepang, dan bila perlu diilustrasikan juga persalaman yang
sering dijumpai dalam masyarakat Indonesia.









B. Persalaman dalam Bahasa Jepang
Kita tahu bahwa mengucapkan salam itu sungguh penting dalam rangka menjalin
hubungan kita dengan orang lain ke arah yang lebih baik. Dalam kehidupan sehari-hari,
entah di Jepang maupun di Indonesia atau di mana pun kita berada, persalaman
merupakan kunci utama atau pintu hati ketebukaan seseorang terhadap ada atau
tidaknya keinginan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dengan kata lain,
persalaman merupakan kunci awal dalam rangka membuka diri kita dengan dunia luar.
Persalaman dalam bahasa Jepang sangat terkait dengan kondisi alam. Artinya,
setiap musim apakah musin semi, musim panas, musim gugur atau musim dingin yang
masing-masing disebut dengan haru, natsu, aki dan fuyu itu sangat berpengaruh
terhadap ungkapan persalaman. Misalnya, “Kyou wa atsui desu ne” (hari ini panas, ya),
ini semacam persalaman yang sering digunakan pada musim panas.
Salah satu iklan yang penulis baca di sebuah setasiun kereta listrik di setasiun
Nippori, yaitu ketika penulis menuju setasiun Tokyo, di situ tertulis dengan besar ajakan
demikian “Atatakai kokoro wa aisatsu kara” (Hati yang hangat bermula dari salam). Ini
mengandung arti bahwa hangat tidaknya seseorang dalam kehidupan ini berawal dari
ada tidak adanya orang itu untuk mengucapkan kata-kata salam. Begitu penulis
membaca iklan tersebut, penulis mencermati gerak langkah orang Jepang yang
kesehariannya selalu disibukan dengan pekerjaan. Tampaknya si pembuat iklan tersebut
melihat fenomena adanya kecenderungan persalaman dalam kehidupan sehari-hari di
Jepang sedikit-demi sedikit dilupakan orang. Di Indonesia pun kecenderungan ini sudah
tampak. Misalnya ketika kita memasuki sebuah ruangan kantor, sangat sedikit para
mahasiswa yang menyapa dengan mengucapkan “selamat pagi”, “asalamu alaikum”,
atau ungkapan lainnya yang sejenis. Mungkin mereka lupa, malu, atau memang tidak
biasa sehingga mereka merasa tidak perlu mengucapkan persalaman tersebut.
Terlepas dari itu semua, memang persalaman di Jepang sudah bergeser, terutama
di kalangan kawula mudanya. Seperti yang dikemukakan oleh penulis buku Tadashii
Nihongo Jiten (Koyama Motoaki, 2003), pada bagian pengantarnya mengemukakan
demikian. “Akhir-akhir ini, kaum muda di Jepang…banyak yang melupakan budaya
saling menyapa…”. Lebih lanjut dikemukakan, “Memang bahasa itu adalah barang yang
dinamis dan hidup”. “… kotoba wa ikimono desu”, demikian dikemukakan Koyama. Oleh
sebab itu, sangat wajar dan alami apabila zaman menggesernya. Artinya berbagai
ungkapan-ungkapan baik yang berhubungan dengan budaya salam, pergeseran dalam
pemaknaan kata maupun dalam pemakaiannya sehari-hari mengalami perubahan pula.
Menurut hemat penulis, zaman boleh berubah, namun budaya saling menyapa
yang nota bene sebagai kunci awal dalam berkomuniasi dengan dunia luar, jelas tidak
boleh dilupakan, yang tentunya kita mesti berusaha menggunakan ungkapan-ungkapan
persalaman itu dengan baik dan benar. Oleh sebab itu, dalam pengajaran bahasa
Jepang, di awal sekali persalaman ohayou gozaimasu, sayounara, dll., merupakan salah
satu ungkapan yang dimunculkan sejak awal pembelajaran bahasa Jepang.
Secara teoritis mengucapkan salam itu tidak sulit dan tidak mengeluarkan energi
bahkan sedikit pun tidak memerlukan biaya. Menurut Kamus Nihonjijo Handobukku
terbitan Taishukan Shoten dikemukakan bahwa “Aisatsu wa, ningen kankei wo yookoo
ni tamotsu tame, aruiwa yoi ningen kankei wo tsukuru tame ni mochiirareru gengo
hyoogen, matawa gengo koodoo no koto wo iu no de atte, joohoo ya kanjoo wo
tsutaeru tame no jishitsutekina gengo koodoo dewanai.”, (Mizutani Osamu, et.al.
2001:16).
Artinya, bahwa persalaman itu merupakan sarana komunikasi verbal dalam rangka
menjalin hubungan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya dan merupakan








cerminan kegiatan berbahasa. Namun, persalaman ini bukan menunjukkan kegiatan
berbahasa yang mengarah pada substansi bahasa itu sendiri. Sebagai ilustrasi, misalnya
kita berpidato dan diawali pidato itu mengucapkan salam kepada orang-orang yang
hadir, apakah dengan selamat pagi, atau assalamualaikum, dan sejenisnya, tujuannya
tiada lain mengandung makna bahwa si pembicara memohon kepada pendengarnya
agar mau mendengarkan uraian yang akan ia sampaikan.
Seperti telah diuraikan di atas, sebuah ungkapan persalaman merupakan salah
satu kunci seseorang dalam membuka dirinya dengan dunia luar. Orang yang tidak
biasa mengucapkan persalaman sungguh rugi. Membiasakan diri saling bersalaman
dengan sesama (teman sekantor, tetangga, bahkan di lingkungan keluarga sendiri) itu
bukan hanya dalam masyarakat Jepang, tetapi menurut hemat penulis berlaku untuk
semua manusia di muka bumi ini, mungkin hanya bentuk dan caranya yang berbeda.
Setidak-tidaknya di lingkungan masyarakat Sunda sangat perlu diperhatikan. Dalam
budaya Sunda misalnya, ada istilah degig, atau sombong. Sebutan ini muncul apabila
ada seseorang yang tidak menyapa orang lain padahal ybs. kenal dengannya. Ini
menunjukkan betapa perlunya dan pentingnya salam dalam kehidupan kita. Sangat
wajar apabila Abdullah Gymnasiar, dalam ceramahnya selalu menyinggung 5S, dua
diantaranya adalah salam dan sapa.
Kembali pada bahasan tentang bahasa Jepang, menurut Mizutani (ibid, 16)
dinyatakan bahwa persalaman dalam bahasa Jepang seperti ohayou gozaimasu „selamat
pagi‟ adalah kata salam yang tidak melihat hubungan personal seseorang itu akrab atau
tidak akrab. Yang penting sangat ditentukan oleh waktu. Artinya sangat tidak tepat
kalau kita mengucapkan ohayou gozaimasu itu siang hari atau malam hari. Sementara
konnichi wa „selamat siang‟, pada dasarnya banyak digunakan di lingkungan keluarga.
Jarang sekali di antara orang Jepang yang menggunakan salam ini kepada lawan
bicaranya, apalagi kepada orang yang tidak dikenalnya.
Dengan kata lain, salam konnichi wa ini tidak digunakan kepada orang yang tidak
ada hubungan personal seperti halnya kepada keluarga sendiri, “…‟konnichi wa‟ to naru
to, kazoku no you ni mottomo chikai kankei no mono ni taishite wa tsukau koto ga
dekinai”, demikian dijelaskan Mizutani. Dalam budaya Jepang, kalau kita bertemu
dengan orang dekat atau tetangganya sering digunakan ungkapan persalaman sebagai
berikut.
1. Bila kita menyapa kepada tetangga, yang kelihatannya akan bepergian, sering
digunakan ungkapan “Odekake desu ka” (mau berangkat). “Itte rasshai”.
Ungkapan tersebut digunakan ketika kita menyapa tetangga yang akan kerja,
terhadap orang yang akan pergi kuliah, atau kita bertemu di tengah perjalan
dengan mereka. Ini ungkapan yang mesti mengalir dengan alamiah dalam diri
kita. Apakah dalam diri kita sudah mendarah daging ucapan seperti assalamu
alaikum, atau selamat pagi, bade angkat kamana, dll. Ketika kita bertemu
dengan orang yang kita kenal ?. Kalau belum, mungkin kita perlu melatih diri.
2. Bila kita bertemu dan mengetahui seseorang akan bepergian jauh, sering
digunakan ungkapan “Ki o tsukete” (hati-hati, ya). Dan jika kita bertemu lagi
dengan orang itu, sebaiknya kita lontarkan ungkapan “Dou deshita” (bagaimana
perjalan itu). Salah satu jawaban yang sederhana yaitu “Okage sama de” (berkat
doa Anda - saya selamat). Ungkapan salam ini, bisa juga digunakan ketika kita
menjawab seseorang jika ia bertanya dengan pertanyaan “ogenki desu ka” (apa
khabar).
3. Ungkapan lainnya yang perlu kita pahami betul adalah doomo. Doomo ini sering
digunakan sebagai penyingkatan dari doomo arigatoo (terima kasih banyak),
doomo itsumo shujin ga osewani ni natte orimasu (mohon maaf, suami saya
sering merepotkan anda), doomo senjitsu wa shitsurei itashimashita (mohon








maaf kemarin/tempo hari saya berlaku kurang sopan), dll. Atau ungkapan lain
kepada mereka yang baru pulang bepergian dalam bahasa Jepang sering
digunakan okaerinasai (Oh, Bapak/Ibu sudah datang), ima, ikaeri desu ka
(apakah mau pulang? ). Sebagai jawabannya sering digunakan chotto kaimono
ni (saya akan belanja), chotto soko made (akan pergi ke sana), sokora wo bura-
bura to (akan jalan-jalan ke sana). Ini sebagai jawaban jika kita ditanya dengan
ungkapan- ungkapan di atas.


C. Penutup
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam persalaman itu, setidak-
tidaknya ada dua tujuan yakni (1) dalam rangka menjalin hubungan manusia ke arah
yang lebih baik/akrab; dan (2) dalam rangka merendahkan diri. Dalam konteks
demikian, yang secara substansial tidak menyampaikan makna sebenarnya dari
ungkapan persalaman tersebut. Misalnya, ketika kita menyerahkan sesuatu hadiah
kepada orang lain. dalam bahasa Jepang, sering digunakan ungkapan “tsumaranai mono
desu ga, yoroshikereba, douzo”, (arti harfiahnya, menyampaikan bahwa oleh-oleh yang
diserahkan itu tidak berharga). Ini hampir sama dengan ungkapan dalam bahasa Sunda
“hatur lumayan”, padahal mungkin saja oleh-oleh yang kita serahkan itu cukup mahal
dan berharga. Atau ketika kita menghidangkan makanan dan menawarkannya kepada
tamu, “nanimo arimasen ga doozo meshiagatte kudasai”. (arti harfiah- nya, tidak ada
apa-apa, silahkan makan), padahal makanan yang dihidangkan itu cukup banyak dan
mungkin juga mahal-mahal. Dalam masyarakat Sunda ada ungkapan “teu aya nanaon,
mangga dileueut”. Jadi, ungkapan “teu aya nanaon, mangga dileueut”, hampir sama
dengan “nanimo arimasen ga douzo meshiagatte kudasai”.
Adapun implikasi dalam pembelajaran bahasa Jepang, secara verbal pemakaian
kata-kata salam dalam bahasa Jepang seperti di atas banyak kita temui pada buku-buku
ajar level dasar, dan relatif mudah kita jelaskan. Namun, kita sering merasa kesulitan
apabila sudah berhadapan dengan orang Jepang, terlebih-lebih apabila ungkapan
persalaman itu sangat sarat dengan niali-nilai budaya Jepang. Dalam hal ini, mungkin
yang lebih penting adalah adanya upaya kita untuk mengumpulkan ilustrasi pemakaian
ucapan persalaman dalam konteks yang beragam agar para siswa mempunyai
pengetahuan dan pemahaman yang memadai.


Pustaka Rujukan
Amri, Miftachul. 2003. Nihon Shakai ni Okeru Higengo Dentatsu Shudan toshite no Ojigi
(Tesis), Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (tidak dipublikasikan).
Dahidi, Ahmad. 2003. Surat-surat Dari Tokyo (Bagian ke-1), Program Pendidikan Bahasa
Jepang FPBS UPI (tidak dipublikasikan).
Koyama, Motoaki. 2003. Tadashii Nihongo Jiten, Hiroshima: Taizoku Shuppan.
Mizutani, Osamu. 2001. “Aisatsu” dalam Nihonjijo Handobukku, Tokyo: Taishukan
Shoten.


*) Artikel ini merupakan penyempurnaan dari artikel yang sudah dimuat pada Jurnal
STBA Yapari Bandung tahun 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar